Resensi Buku

 Resensi Buku

Judul:Batik For Fashion

Penulis:Indah Rahmawati

Penerbit:Laskar Aksara

Jumlah halaman:112


Isi buku:Fachruddin Dani (2009) mengungkapkan bahwa Perkembangan batik di Indonesia berkaitan dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan kerajaan sesudahnya, seperti masa-masa kejayaan kerajaan Mataram. Kesenian batik merupakan kesenian gambar di atas kain, untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluarga raja-raja Indonesia zaman dulu.Awalnya batik dikerjakan hanya sebatas dalam keraton saja, dan hasilnya digunakan sebagai pakaian untuk para raja, keluarga serta kerabat kerajaan.Karena kerabat keraton banyak yang tinggal di luar keraton, maka kesenian batik ini mereka bawa ke luar keraton.Dalam perkembangannya, batik ditiru oleh rakyat terdekat dengan keraton dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita untuk mengisi waktu senggangnya. Kemudian, Batik yang tadinya dipakai hanya untuk keluarga keraton, akhirnya menjadi pakaian rakyat yang digemari oleh para kaum wanita dan pria.

Perjalanan "Batik Yogya" sangat erat kaitannya dengan perjalanan sejarah Kraton, karena batik merupakan busana adat tradisional khas Kraton Yogyakarta, di mana dalam penggunaannya juga terdapat sejumlah aturan yang ditetapkan oleh Raja yang berkuasa. Sejarah Batik Yogya berhubungan erat dengan momen perjanjian Giyanti di tahun 1755. Ketika itu, setelah Mataram terbelah dua, dan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat berdiri, busana Mataram diangkut dari Surakarta ke Ngayogyakarta, Kemudian Sri Susuhunan Pakubuwono II merancang busana baru agar pakaian adat Kraton Surakarta berbeda dengan busana Jogja. Tidak hanya itu, semua pusaka dan benda-benda keraton dibagi dua. Karena Kangjeng Pangeran Mangkubumi sangat tertarik dan ingin melestarikannya, maka busana Mataraman dibawa ke Yogyakarta. Oleh sebab itu, Surakarta yang berada dibawah kekuasaan Sri Paduka Susuhunan PB III akhirnya merancang tata busana baru dan berhasil membuat Busana Adat Keraton Surakarta, seperti yang kita lihat sampai sekarang ini.

Ciri khas batik gaya Yogyakarta, memiliki dua latar atau warna dasar kain, yaitu Putih dan Hitam. Sementara warna batik bisa putih (warna kain mori), biru tua kehitaman dan coklat soga. Sered atau pinggiran kain diusahakan tidak sampai pecah, sehingga kemasukan soga, baik kain berlatar hitam maupun putih. Ragam hias yang pertama adalah yang bersifat geometris seperti garis miring lerek atau lereng, garis silang atau ceplok dan kawung, serta anyaman dan limaran. Ragam hias yang kedua bersifat non-geometris, yaitu semen, lung- lungan dan boketan. Ragam hias yang ketiga adalah ragam hias yang bersifat simbolis dan erat hubungannya dengan falsafah Hindu - Jawa (Ny.Nian S Jumena), yaitu “sawaf” yang melambangkan mahkota atau penguasa tinggi;"meru" melambangkan gunung atau tanah (bumi);        ”naga” melambangkan air; “burung” melambangkan angin atau dunia atas; dan “lidah api” melambangkan nyala atau geni.

Batik adalah salah satu cara pembuatan bahan pakaian dengan mengguna- kan sejumlah peralatan khusus. Istilah batik mengacu pada dua hal, yang pertama adalah teknik pewarnaan kain dengan menggunakan malam untuk mencegah pewarnaan sebagian dari kain. Dalam literatur internasional, teknik ini dikenal sebagai wax-resist dyeing. Sedangkan yang kedua, adalah kain atau busana yang dibuat dengan teknik tersebut, termasuk penggunaan motif-motif tertentu yang memiliki kekhasan. Sebagai keseluruhan teknik, teknologi serta pengembangan motif dan budaya yang terkait, UNESCO telah menetapkan batik Indonesia sebagai warisan kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi.

Pada dasarnya, yang disebut kain batik adalah kain yang mengalami proses wax-resist dyeing atau pengaplikasian bahan "malam" (wax) ke atas kain, untuk menahan masuknya bahan pewarna (dye), sehingga akan menghasilkan warna dan corak tertentu. Dengan demikian, yang dapat dikategorikan sebagai kain batik adalah Batik Tulis dan Batik Cap. Sedangkan untuk jenis Printing, pada dasarnya jenis ini bukanlah batik yang sesungguhnya. Namun hanya merupakan bahan tekstil biasa yang menggunakan motif batik dan diproses seperti pembuatan tekstil pada umumnya. Dari segi harga, memang Batik Tulis dan Cap memiliki kisaran harga yang jauh lebih tinggi dari Printing. Namun hal ini sesuai dengan "value" yang kita dapatkan ketika memilih kain Batik Tulis atau Cap. Selain itu, dengan mengeluarkan budget lebih untuk membeli Batik Tulis atau Cap, berarti kita telah memberikan apresiasi yang lebih pula bagi para pengrajin yang terus melestarikan Batik sebagai warisan budaya asli Indonesia.

Sinopsis: Batik telah mencapai tahap puncaknya yang sangat fenomenal Dan batik pun telah menjadi fashion dunia Banyak desainer terkemuka dunia memakai batik sebagai bahan rancangannya untuk menghasilkan sebuah karya busana yang bercitra seni tinggi yang mampu memesona jutaan mata di dunia Setiap hari kita menyaksikan orang-orang memakai batik dengan varian yang sangat beragam yang tidak hanya untuk kebutuhan formal tetapi juga merupakan fashion style dalam berbagai suasana.Dari yang hanya sekedar hang-outevent-event kasual untuk acara gaul hingga acara-acara yang berkelas sosialita.Dan batik pun sudah dipakai oleh segala usia Bahkan para penggila dan penikmat fashion di kalangan muda semakin antusias memperlihatkan ketertarikannya terhadap batik Dan lebih mengejutkan orang-orang pun tak ragu lagi untuk bergaya dengan memakai busana batik dalam kesehariaanya.Meningkatnya ketertarikan masyarakat terhadap batik berdampak pada meningkatnya kebutuhan kreasi-kreasi baru yang semakin menarik pada dunia fashion itu sendiri.

Buku "A to Z BATIK FOR FASHION" akan memberikan inspirasi dan inovasi yang semakin banyak memberikan pilihan dalam menyempurnakan penampilan dengan batik asli IndonesiaTidak hanya terbatas pada busana namun juga berbagai aksesoris dari batik.

Untuk mengetahui segala pengeksplorasian batik sebagai fashion, this is it Batik For Fashion, for you to read.





Komentar